Representasi Kreatif Seniman Dalam Candi Tigawangi (2)

|
Oleh: Toto Sugiarto Arifin

Relief dan Kreativitas

Kebudayaan masa lalu di pulau Jawa dapat dilihat dalam perwujudan relief-relief candi. Bagaimana sistem pertanian masa itu dilakukan, bagaimana komunikasi disampaikan, bagaimana agama diajarkan, bagaimana hubungan kekeluargaan dilaksanakan, dan masih banyak lagi informasi yang didapatkan dari sederetan cerita relief candi. Relief merupakan suatu gambaran cerita yang dipahatkan di atas batu, kayu atau bahan-bahan lainnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 830), relief merupakan pahatan yang menampilkan perbedaan bentuk dan gambar dari permukaan rata di sekitarnya atau gambar timbul pada candi.

Relief dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata ’peninggian’, dalam arti kedudukannya lebih tinggi daripada latar belakangnya, karena dikatakan relief memang senantiasa ”berlatar belakang”, karena peninggian itu ditempatkan pada suatu dataran. Menurut tinggi rendahnya relief dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis, yaitu relief tinggi (high relief); relief sedang (middle relief); relief rendah (low relief); relief datar (crushed relief); relief rendah (hollow relief) (Susanto, 2002: 97). Adapun relief yang terdapat di candi Tigawangi dapat diklasifikasikan pada relief sedang.

Relief candi adalah karya seni rupa yang dulunya sebagai salah satu media komunikasi dalam mendokumentasikan dan menyampaikan ajaran agama dan kehidupan sosial yang ada kaitannya dengan nilai baik dan buruk. Jadi fungsi relief adalah sebagai media komunikasi, sehingga aspek bahasa rupa melalui cerita menjadi penting. Mengingat relief sebagai media komunikasi, maka dalam perwujudannya harus mudah ditangkap dan dipahami secara benar oleh masyarakat waktu itu, dengan demikian diperlukan kreativitas seorang seniman dalam menghasilkan karya-karya relief tersebut. Kreativitas merupakan satu kemampuan membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada (Munandar, 1999: 47). Dengan demikian pembuatan relief candi zaman Majapahit selain berdasarkan cerita-cerita yang disampaikan secara lisan, diasumsikan pula berdasarkan data dan informasi saat itu mengenai relief-relief candi sebelumnya, baik relief candi zaman Singasari maupun relief candi zaman Jawa Tengah.

Dalam proses kreatif sesungguhnya apa yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali, tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Yang dimaksudkan dengan data atau informasi, dalam arti sudah ada sebelumnya, atau sudah dikenal sebelumnya, adalah semua pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya. Adapun ciri-ciri kreatif dapat diidentifikasi dari kemampuan seseorang dalam berkarya secara fleksibel, orisinil, lancar, dan elaboratif.

Menurut Soemardjo (2000: 82), dalam perkembangan ilmu seni, telah ditemukan teori-teori tentang kreativitas, antara lain teori Emosi, teori Genius, dan teori Bawah Sadar. Teori Emosi menekankan kreativitas dari aspek emosi manusia. Seni yang baik, seni yang kreatif, adalah seni yang mengandung bobot emosi orisinal senimannya. Tetapi, bobot emosi orisinal yang meluap-luap itu harus diarahkan atau dikontrol oleh pikiran. Artinya emosi itu haru diberi bentuk, diberi struktur, diatur dalam pola tertentu. Seni yang mengungkapkan penderitaan, bukan luapan atau ekspresi orang yang sedang menderita. Seniman tidak harus menderita terlebih dahulu, baru ia bisa mengungkapkan penderitaan itu dalam karyanya. Yang penting apakah karyanya mampu menciptakan perasaan derita itu.

Teori Genius menekankan lahirnya ’jiwa besar’ (greatness of soul) dalam sebuah karya seni. Sebuah karya seni kreatif adalah karya yang tidak dibatasi, karya yang memiliki kualitas individual dan berbeda dari sebuah temuan sebelumnya. Nilai orisinalitas ini tentu saja tidak semata-mata individual, karena setiap karya seni, setiap penciptaan, selalu berorientasi ke luar, kepada orang lain. Ciptaan itu bukan berorientasi hanya pada diri seniman sendiri. Seni itu bukan semata-mata subjektif, tetapi juga harus bersifat objektif yang berarti berlaku benar bagi orang lain.

Teori Bawah Sadar ditemukan bersamaan dengan berkembangnya ilmu jiwa yang dikembangkan oleh Freud. Seni kreatif adalah seni yang menemukan sesuatu yang sama sekali baru yang belum pernah dikenal, tetapi secara intuitif dirasakan sebagai telah dikenal oleh seluruh sejarah umat manusia. Karya yang menghadirkan sesuatu yang tidak dikenal tetapi yang secara samar-samar telah akrab dengan pengalaman manusia lainnya, itu merupakan nilai yang dijunjung tinggi.

0 komentar:

Posting Komentar