Representasi Kreatif Seniman Dalam Candi Tigawangi (3)

|
Oleh: Toto Sugiarto Arifin

Keindahan dan Representasi Seni

Candi Tigawangi merupakan hasil akulturasi antara kebudayaan India dengan kebudayaan Jawa ’asli’. Tentu saja keindahan dari relief candi itu merupakan perpaduan keindahan India dan Jawa dan perpaduan keindahan tersebut bukanlah sesuatu hal yang baru tumbuh pada zaman Jawa Timur, tetapi sejak pertama kali kebudayaan India ’menyentuh’ kebudayaan Jawa di Jawa Tengah, akulturasi tersebut telah nampak dengan jelas seperti yang disinyalir oleh Tagore ketika berkunjung ke Indonesia. Hal serupa juga dikemukakan oleh Seoprapto Soedjono (2006: 8) bahwa ”...faces are so characterized but the other faces as well as gesture of hands, feet, and limbs are remain conventionalized, as they are in most parts were derived from combining Indianizing art tradition with local indigenous tradition.”

Keindahan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari istilah seni, bahkan sebagian orang awam beranggapan bahwa seni itu harus mengandung nilai-nilai keindahan, walaupun paham ini ditentang oleh sebagian ahli, karena seni tidak harus selalu indah. Namun paham kedua itu masih tergantung dengan jawaban atas pertanyaan pertama, yang bagaimana yang indah itu (Soedarso, 2006: 11). Keindahan dalam kebudayaan India telah memiliki aturan-aturan atau kaidah-kaidah tertentu, yang membimbing seniman dalam membuat sebuah karya. Keindahan dalam konsep India bukan apa yang dapat dilihat, didengar atau diraba, tetapi keindahan adalah ada di dalam jiwa atau antahkarana. Untuk mencapai keindahan yang paling hakiki diperlukan satu konsentrasi dan meditasi. Seperti yang dijelaskan oleh Padma Sudhi (1983: 5) “when these senses move to the internal world of pure-consciousness, from aesthetic mood to aesthetic taste and from aesthetic taste to aesthetic enlightenment, they reach the aesthetic realization through the practice of concentration and meditation.”

Keindahan sebagai pencerahan hanya dapat dicapai melalui meditasi atau yoga. Perilaku seperti itu juga seringkali dilakukan oleh seniman-seniman tradisional di Jawa, yaitu sebelum menciptakan sebuah karya, mereka harus melalui laku, artinya melakukan satu tindakan seperti puasa, kontemplasi atau perenungan, bahkan melalui meditasi. Setelah itu baru akan dihasilkan sebuah karya yang memiliki nilai keindahan tinggi.

Selanjutnya menurut Sutrisno (Soetrisno, 1993: 94-96) filsafat keindahan India dapat ditelusuri dalam tulisan Bharata. Bharata menulis Natyasastra (Kitab tentang pentas); abad ke-5 atau ke-6 M, yang membedakan antara rasa dan bhava. Bahwa bhava merupakan reaksi-reaksi murni; emosi-emosi yang muncul begitu saja tanpa terkendali. Terdapat 8 bhava, yaitu; senang, marah, sedih, gembira, bulat-tekad, takut, benci, kagum, sedangkan rasa adalah emosi-emosi yang sudah tersaring, sehingga menghasilkan sebuah karya seni. Selanjutnya Sankuka yang hidup pada abad ke-10 M menjelaskan bahwa rasa bukanlah puncak bhava, tetapi bayangan penggandaan emosi. Pengalaman estetika berada di luar permasalahan benar dan tidak benar. Rasa itu merupakan persepsi self evident, tetapi Abhivagupta memberi kritik atas pandangan Sankuka. Kesenian bukanlah suatu imitasi, tetapi cara baru untuk melihat hidup nyata. Akhirnya Bhatta Tauta menyampaikan bahwa rasa itu pertama-tama ada di dalam batin sang penyair (kavi). Hanya orang yang bisa beridentifikasi diri dengan yang dilihatnya, yang bisa mengalami rasa. Itu terwujud dalam takjub dan kagum yang memberinya kebahagian estetika. Adapun rasa adalah merupakan pengolahan atas emosi atau bhava yang bersifat personal oleh seniman dan dimurnikan serta dikombinasikan dengan rasa lain, secara artistik sehingga menjadi universal (Soedarso, 2006: 174).

Karya yang ditampilkan dari proses kontemplasi merupakan representasi pengalaman seniman atas perjalanan hidupnya. Representasi berarti sebuah tanda untuk sesuatu yang diwakilinya. Ketika melihat relief dalam candi yang menggambarkan seorang yang sedang mancing, itu menandakan bahwa masyarakat pada saat itu telah melakukan aktivitas seperti itu. Secara semantik, representasi bisa diartikan to depict, to be a picture of, atau to act or to speak for (in the place of, in the name of) somebody (Noviani, 2002: 61). Artinya representasi bukan mewakili dirinya sendiri tetapi mewakili sesuatu hal lain.

Istilah representasi dalam seni menurut Sumardjo (2000: 76) dapat mengandung arti sebuah gambaran yang melambangkan atau mengacu kepada kenyataan eksternal. Atau dapat berarti pula ‘mengungkapkan ciri-ciri umum yang universal dari alam manusia’. Di samping itu pula representasi juga berarti menghadirkan bentuk-bentuk ideal yang berada di balik kenyataan alam semesta. Representasi seni adalah upaya mengungkapkan kebenaran atau kenyataan semesta sebagaimana ditemukan oleh senimannya.

Karya seni adalah kerja yang serius, sama seriusnya dengan ilmuwan yang mencari kenyataan baru dari gejala alam. Perlu ada kerja keras, perlu ada pengamatan data, perlu ada ketajaman intuisi dalam melihat kebenaran di balik permukaan, perlu penguasaan teknik seni yang tinggi dan cerdas, agar lahir sebuah karya seni dalam modus tertentu, baik mimesis maupun imajinatif-idealis.

0 komentar:

Posting Komentar