Kreativitas: Keberagaman Dalam Pemaknaan (1)

|
Oleh: Rien Surtantini

Pengantar
Kata “kreativitas” memiliki makna dan pemahaman yang bervariasi di dalam ilmu-ilmu yang mempelajarinya, karena tidak mudah membedakan makna kata ini dengan istilah “kecerdasan”, “wawasan”, “intuisi”, “kebijakan”, “keterampilan memecahkan masalah” atau “menemukan sesuatu yang baru”, yang kesemuanya bercampur, mewarnai dan menggambarkan perilaku kreatif. Pemahaman kita tentang kreativitas berkembang juga dengan perbincangan mengenai adanya cara berpikir yang “konvergen” (yang memandu kita untuk sampai pada sebuah jawaban yang benar dan konvensional), serta cara berpikir “divergen” (yang menghasilkan berbagai jawaban dan solusi yang baru).


Kreativitas: Sebuah Refleksi
Diskusi teman-teman yang mengikuti forum Jumat pagi beberapa waktu yang lalu pada awal Januari 2010 tentang kreativitas di bidang seni menunjukkan bagaimana “kreativitas” dimaknai oleh teman-teman dari berbagai perspektif dan pengalaman masing-masing. Saya mencoba melihat diskusi saat itu sebagai sebuah “teks” yang hadir di dalam pikiran saya, saya baca, dan kemudian secara bebas teks tersebut mengalami proses signifikasi dalam alam pikiran saya.
Melalui “teks” (baca: diskusi) yang saya maknai ini, saya melihat bagaimana kreativitas di bidang seni yang didiskusikan oleh teman-teman memiliki interpretasi dari berbagai sudut pandang yang (1) prosedural (di dalamnya terkandung tahap-tahap yang dapat diukur karena melalui bukti-bukti empiris), (2) bebas dengan kriteria sangat personal karena ini adalah sebuah proses internal yang dialami secara berbeda oleh setiap individu, (3) membaur karena memadukan perspektif pendidik dan seniman, (4) berdasarkan pengalaman diri sendiri yang aktual atau penilaian terhadap proses kreatif orang lain yang diamati.
Ketika diskusi ini berakhir, saya jadi berpikir apakah kita harus selalu mencari sebuah rumusan yang pasti, atau menemukan satu-satunya rumusan dan norma yang “benar” tentang kreativitas di bidang seni? Apakah usaha ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah berakhir? Inikah keinginan atau pemikiran yang berkreasi tanpa batas, yang harus dicari terus menerus, sehingga muncullah dinamika wacana yang beragam di mana setiap orang punya pendapat, argumentasi, kepentingan?
Saya juga kemudian bertanya-tanya lagi, apakah ini salah satu representasi manusia di jaman post-modernisme? Dan apakah kita di dalam institusi ini, sadar atau tidak sadar, menjadi pelakunya? Tetapi, apabila kita menjadi pelakunya, apakah kita melakukan kegiatan “dekonstruksi” terhadap makna dan kegiatan “kreativitas”, karena tuntutan terhadap rumusan peran (terutama teman-teman yang berlatar belakang seni) di dalam institusi kita ini adalah “multi-peran”: sebagai pendidik yang selalu harus belajar, sebagai seniman yang harus berkreasi, sebagai peneliti yang harus melakukan kegiatan akademik, sebagai entrepreneur, dst.....; sementara itu, mereka pun beperan sebagai pegawai negeri yang berdedikasi, punya integritas, bermental teladan, dan sekian peran lainnya yang luar biasa yang membuat kita kemudian ragu untuk melakukan kegiatan “dekonstruksi” karenanya........
Ada garis melingkar yang membatasi proses kreatif ini. Garis ini bervariasi bentuknya, tebal, tipis, lurus, bergelombang, tergantung pembuatnya. Garis-garis ini menciptakan standar-standarnya. Sebagai standar, garis-garis ini tidak boleh dilalui, yang mencerminkan semangat normatif; tetapi sebagai variasi, garis-garis ini mencerminkan keberagaman bentuk tadi, yang mencerminkan semangat pluralistis. Jadi, pembuat garis ini berada di dua dunia: standar dan relatif. Dalam kondisi seperti ini, adakah proses dekonstruksi? Bagaimana kreativitas dapat dilakukan?

0 komentar:

Posting Komentar